Masalah terbesar UI/UX Designer pas mendesain SaaS atau internal tools: niru mentah-mentah tampilan spreadsheet dari user. 🛑
Keliatannya gampang, tapi ini akan jadi masalah UX! Mari kita bedah gimana Harnods.com ngebangun Incentive Calculator biar nggak jadi spreadsheet versi 2.
Kita ngebangun fitur kalkulator insentif sebagai add-on di software HRIS Talenta.
Masalahnya? Rumus ngitung bonus karyawan itu chaos. Ada target sales, matriks performa khusus, sampai struktur insentif yang beda-beda tiap divisi.
Kalau ini cuma dibikin form input panjang, HRD bakal pusing dan ujung-ujungnya balik lagi pakai Excel.
Kita nggak mikir “Gimana cara masukin rumus Excel ke web?”
Tapi kita mikir “Gimana cara memecah logika matematika yang ribet jadi bahasa manusia yang visual?” Ini how might we nya ketika kita ideation.
Tantangan UX-nya ada pada fleksibilitas (harus bisa custom) tapi harus tetap punya pagar (biar nggak error).
Alih-alih ngasih kotak kosong buat HR ngetik rumus (yang rawan banget human error), kita mendesain UI berkonsep IF-THEN Logic Builder.
User tinggal pilih parameter (dropdown target), set benchmark (kondisi), lalu tentukan persentase insentifnya. Semua dikemas dalam layout modular.
Dari sisi Technical UX, pendekatan ini nyelesain dua hal krusial:
- Cognitive Load: Otak manusia lebih gampang mencerna blok visual berurutan (Step 1, Step 2) daripada tabel berisi ratusan baris data.
- Error Prevention: Dengan UI berbasis parameter/kondisi, HR nggak akan bisa nulis rumus yang formatnya salah. Mencegah error lebih baik dari bikin pesan error yang estetik!
Punya bisnis dengan custom software tapi bingung cara bikin tampilannya lebih simple dan intuitive?
Let Harnods handle the complexity.
Diskusiin UX pain point aplikasi kamu dengan saya Nayusi di build@harnods.com atau start a project di harnods.com